Brew Your Brand: Seni Meracik Identitas dari Cerita ke Citra

Brew Your Brand: Seni Meracik Identitas dari Cerita ke Citra

Dalam sesi Career Meetup Remote Worker Pontianak yang bertajuk “Brew Your Brand”, CEO Toko Kami, Yudistira Nusantara, membuka diskusi dengan satu pertanyaan sederhana namun bermakna: “Menurut kamu, apa itu brand?”

Ia kemudian menjelaskan, brand bukan tentang apa yang kamu katakan, tetapi tentang apa yang orang lain katakan tentang produkmu. Brand bukan hanya logo atau nama tetapi gut feeling yang orang miliki terhadap bisnismu. Membangun brand berarti membangun persepsi lewat setiap touchpoint yang dirasakan oleh audiens.

Makna di Balik “ Toko Kami”

Yudis juga menjelaskan bahwa kata Kami dalam Toko Kami memiliki makna khusus. Nama ini merepresentasikan Indonesia yang hadir mulai dari pilihan menu, bahan baku, hingga pengalaman pelanggan. Toko Kami menggunakan kopi asli dari Indonesia, menegaskan identitasnya sebagai brand lokal yang berakar pada budaya nasional dan ingin menjadi ruang di mana kehangatan lokal bisa dirasakan dalam setiap cangkir.

Brand Essential: From Fundamental to Execution

Yudis memulai sesi dengan menjelaskan Brand Essentials, yang mencakup perjalanan dari fundamental hingga execution. Menurutnya, brand fundamental adalah apa yang orang rasakan dan yakini tentang bisnismu – pondasi emosional sebelum visual.

Berikut elemen-elemen penting dalam fondasi brand

  1. Brand Purpose : Alasan mengapa brandmu ada - Why you exist beyond making money
  2. Brand Vision : Dampak jangka panjang yang ingin kamu ciptakan
  3. Brand Mission : Bagaimana cara kamu mencapai misi tersebut
  4. Brand Values : Keyakinan dan prinsip yang membimbing setiap tindakan
  5. Brand Personality : Sifat manusia yang dieskpresikan oleh brand
  6. Brand Promise : Janji yang secara konsisten kamu berikan kepada audiens

Brand Purpose : North Star bagi Bisnis

Brand Purpose menjadi North Star bagi bisnis – alasan mengapa kamu exist, lebih dari sekadar mencari profit. Purpose menghubungkan brand secara emosional dengan audiens dan memberikan makna pada bisnis.

Yudis memberikan tips sederhana ketika ingin menentukan Brand Purpose, yaitu dimulai dengan membuat sebuah kalimat dengan format berikut, We exist to … so that ….. Contohnya : Kami exist untuk mengedukasi anak sekolah, sehingga edukasi bisa lebih terjangkau dan harganya murah.

Ia juga mencontohkan beberapa brand purpose milik perusahaan seperti

  1. Microsoft : To empower every person and every organization on the planet to achieve more.
  2. LEGO : To inspire and develop the builders of tomorrow.

Brand Purpose yang jelas akan mengarahkan visi dan misi brand, serta menjadi acuan setiap kali tim menghadapi keputusan sulit.

Brand Values : Membangun Budaya dan Perilaku

Menurut Yudis, brand values membentuk budaya dan perilaku bisnis. Tips-nya, buat 3-5 actionable values dengan kata kerja agar mudah diterapkan. Contoh dari Toko Kami “Kami bersamamu”, dalam setiap momen, kami akan bersama teman-teman baik melalui kopi, makanan, dan kehangatan suasana.

Purpose berfokus pada long-term impact, sedangkan values menjadi kompas perilaku harian yang membentuk budaya perusahaan. Brand Values juga harus jelas agar konsumen tidak bingung mengenai identitas brand kamu.

Dari Purpose ke Vision dan Mission

Visi dan misi berasal langsung dari brand purpose. Vision menggambarkan arah jangka panjang, harus ambisius tetapi masih bisa dipercaya (believable) sedangkan Mission adalah langkah nyata untuk mewujudkan visi tersebut. Contohnya, Toko Kami memiliki visi memperkenalkan budaya Indonesia melalui kopi dan makanan lokal. Kolaborasi bersama komunitas Remote Worker juga menjadi bagian dari visi tersebut.

Brand Personality: Menjadi “Manusia” dalam Dunia Brand

Sama seperti manusia, brand juga perlu memiliki kepribadian layaknya manusia, dengan emosi, sikap dan gaya komunikasi yang khas.

Yudis menjelaskan bahwa dalam teori 12 brand archetypes, idealnya brand hanya memiliki satu kepribadian dominan, bukan tiga atau lebih agar identitasnya tidak kabur.

Sebagai latihan, ia menyarankan peserta membayangkan brand mereka seperti “artis” tertentu untuk membantu menentukan bagaimana brand tersebut akan “berbicara”

Dan seperti manusia yang dipercaya karena konsistensi, brand pun harus menepati janjinya. Janji yang dibuat kepada audiens harus realistis dan bisa dipenuhi, karena pada akhirnya, brand bukan hanya menjual produk, tetapi membangun kepercayaan (trust).

Brand Identity: Wajah dari Brand

Setelah fondasi kuat, barulah masuk ke brand identity — bagaimana brand terlihat, terdengar, dan terasa.

  1. Name

Nama harus memorable, relevan, mudah diucapkan dan dieja, serta memiliki makna emosional. Jika ingin berkembang lebih jauh, pastikan nama tersebut terdaftar di HAKI.

Toko Kami, misalnya, sudah resmi terdaftar dan dikenal juga sebagai Tokam oleh para pelanggan.

  1. Logo

Logo adalah representasi visual brand. Prinsipnya: distinctive, simple, memorable, timeless, dan versatile.

Pastikan logo tetap terbaca dalam versi hitam putih atau ukuran kecil.

  1. Color Palette

Warna membentuk persepsi secara instan dan memicu emosi.

Toko Kami menggunakan merah dan putih, merepresentasikan semangat Indonesia. Warna merah juga berfungsi mengundang perhatian dan kehangatan.

  1. Typography

Gunakan maksimal dua sampai tiga jenis font untuk menjaga konsistensi visual.

  1. Voice and Tone

Tentukan voice chat di awal: bagaimana brand berbicara dalam situasi normal dan saat menerima keluhan. Konsistensi penting karena brand adalah “manusia”.

  1. Tagline

Harus singkat, mudah diingat, dan mencerminkan nilai utama brand. Contoh: “Kami Bersamamu.”

Brand Positioning dan Storytelling

Brand positioning adalah bagaimana brand ingin ditempatkan di benak konsumen. Gunakan kalimat sederhana seperti: “Kami adalah brand yang … untuk mereka yang …” Lalu perkuat dengan brand storytelling — jembatan antara logika dan perasaan. Framework storytelling mencakup lima elemen:

  1. Hero : Siapa yang kamu bantu (target audiens)
  2. Problem : Tantangan yang mereka hadapi
  3. Guide : Bagaimana brand hadir sebagai solusi
  4. Transformation : Perubahan setelah brand hadir
  5. Why it matters : Alasan kenapa cerita itu penting

Contoh dari Toko Kami: pelanggan yang mencari tempat kopi sederhana, tapi hangat dan penuh makna. Toko Kami hadir sebagai teman sehari-hari dengan kopi susu otentik dan pelayanan ramah.

Brand Experience : Saat Cerita Menjadi Nyata

Brand experience adalah pengalaman nyata yang dirasakan konsumen di setiap interaksi dengan brand kita. Toko Kami dikenal memperhatikan detail kecil — seperti menyediakan colokan tambahan di setiap meja, memastikan kenyamanan pelanggan. Yudis juga menceritakan kisah seorang driver ojol yang membuat konten tentang pengalamannya mengambil pesanan di Toko Kami.

Setiap kali datang, staf selalu menyapa dengan tulus: “Hati-hati di jalan, ya!” Gestur sederhana tapi bermakna, menciptakan koneksi emosional yang tulus antara brand dan pelanggan.

Empat dimensi utama dalam brand experience:

  1. Physical: store, packaging, product design → fokus pada sensory & visual impact.
  2. Digital: website, app, social media → fokus pada ease, clarity, consistency.
  3. Human: staff behavior, customer service → fokus pada tone, empathy, reliability.
  4. Emotional: atmosphere, small rituals → fokus pada how people feel after interacting.

Q&A Session: Insights dari Peserta

  1. Apa yang harus didahulukan, operasional atau brand strategy?

Menurut Yudis, jika kamu adalah perintis, buat dulu strategi branding sebelum menjalankan bisnis. Bisnis kopi misalnya, biasanya ramai di tiga bulan pertama tapi bisa menurun setelahnya — karena tak punya fondasi brand yang kuat dan tantangannya ada di bulan ke empat dan satu tahun pertama. Ia juga menambahkan “Strategi brand itu safety net kamu di tahun pertama.”

  1. Bagaimana Toko Kami menentukan ekspansi ke Yogyakarta?

Keputusan ekspansi selalu berbasis data. Toko Kami menggunakan data dari BPS dan survei konsumen. Yogyakarta dipilih karena jumlah pendatang meningkat setiap tahun, sehingga potensi pasar besar.

  1. Apakah brand Toko Kami sama dengan kepribadian owner?

Yudis menjawab ya. Nama “Nusantara” pada namanya mencerminkan kecintaannya terhadap budaya dan kuliner Indonesia. Namun, ia juga mengatakan bahwa tidak menutup kemungkinan membuat brand baru dengan persona berbeda — seperti Paragon Group yang memiliki berbagai brand dengan karakter unik.

  1. Bagaimana jika ingin rebranding?

Evaluasi dulu brand fundamental dan brand identity. Jika purpose sudah tidak relevan, boleh diubah. Namun identity harus hati-hati karena paling sensitif. “Kalau bisa rebranding, lakukan. Kalau tidak, buat sister brand yang tetap dalam satu grup.”

  1. Produk dulu atau brand dulu?

“Brand dulu baru produk.” Yudis menekankan pentingnya membentuk purpose, vision, mission, dan personality sebelum menentukan produk. Janji yang dibuat harus bisa menyelesaikan masalah konsumen karena ketika konsumen menemukan solusi, mereka akan kembali lagi.

  1. Apakah harus punya banyak produk?

Tidak selalu. Toko Kami justru memilih menu sedikit tapi otentik. Tujuannya agar pelanggan mudah memilih tanpa antrian panjang. “Yang penting punya winning product — seperti kopi susu sederhana di Toko Kami.”

Key Takeaways

Brand yang kuat selalu berawal dari kejelasan tujuan. Brand purpose bukan sekadar pernyataan ideal, tetapi menjadi arah yang menuntun setiap keputusan dan strategi bisnis. Seperti yang disampaikan Yudis, “Mulailah dari why brand-mu itu ada.” Ketika sebuah brand memahami alasan keberadaannya, ia memiliki fondasi yang lebih kokoh untuk bertahan dibanding brand yang hanya berfokus pada produk.

Dari purpose yang jelas, lahirlah brand values, nilai-nilai yang membentuk perilaku nyata dalam budaya kerja, pelayanan, hingga cara berinteraksi dengan pelanggan. Nilai-nilai inilah yang kemudian mewujud menjadi brand promise, janji yang harus ditepati. Sebuah janji yang realistis dan konsisten, karena pada akhirnya, brand tidak hanya menjual produk, tetapi membangun kepercayaan (trust).

Sementara itu, identitas visual seperti nama, logo, warna, dan tipografi hanyalah pintu masuk untuk mengenal brand. Makna sejatinya justru tercermin dari konsistensi cerita dan pengalaman yang dihadirkan di baliknya. Ketika pelanggan merasakan pengalaman yang seragam, baik online maupun offline—mereka akan lebih mudah mengenali dan mempercayai brand tersebut.

Pada akhirnya, brand tumbuh seiring dengan manusia di baliknya. Semakin dalam pemahaman seorang founder terhadap nilai dan karakter dirinya, semakin autentik pula karakter brand yang terbentuk.